Powered by Blogger.

23 January 2011

ANDAI AKU JADI GAYUS TAMBUNAN (Lagu dan Potret Penegakan Hukum)

ANDAI AKU JADI GAYUS TAMBUNAN
(Lagu dan Potret Penegakan Hukum)

Oleh: Edi Kurniawan*


Andai Aku Jadi Gayus Tambunan
By. Bona Paputungan


…….
Kita orang yang lemah
Tak punya daya apa-apa
Tak bisa berbuat banyak
Seperti para koruptor




Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi


Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
…….
Beberapa waktu lalu, Bona, dengan kreatifitasnya melihat realitas sosial politik negeri ini, ditambah lagi dengan pengalamannya di penjara, barangkali itulah yang mengilhaminya menciptakan lagu, “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan”.

Gayus, belakangan ini, siapa yang tak tahu? Sekurang-kurangnya orang pasti pernah mendengar namanya atau melihat fotonya saat mengenakan wig yang konyol itu. Dia bukan tokoh roman percintaan yang populer. Dia tak punya kisah asmara yang mengharubirukan perasaan siapa saja. Dia adalah antagonis, seseorang yang menjadi tersangka kasus besar mafia hukum dan mafia perpajakan yang kebetulan melakukan tindakan-tindakan luar biasa yang menunjukkan betapa, seperti digambarkan dalam syair Bona, “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan”.

Pasti tak semua orang mau tahu bagaimana sebenarnya kedua mafia itu membelit instansi pemerintah, penegak hukum, dan barangkali juga organisasi politik, sehingga transaksi untuk mengakali dan mengelak dari sanksi hukum bisa dilakukan. Tapi ada satu titik yang mempertemukan kepentingan siapa pun: mereka paham betapa praktek kotor penginjak-injakan hukum yang melibatkan birokrat, pengusaha, dan politikus serta ketidakadilan sedang berlangsung.

Lagu dan Kritik Sosial
Bila dicermati bait-bait lagi yang diciptakan Bona, di situ tampak ia menceritakan keadaan penegakan hukum negeri ini yang dapat diperjual belikan. Hukum hanya berlaku untuk orang yang lemah. Namun apalah dikata, orang lemah hanya bisa pasrah. 

Masih ingatkan dengan kasus nenek Imah yang mencuri semangka lantaran kelaparan satu beberapa tahun lalu, ia diringkus dengan cara yang tidak mengenakkan. Namun orang sekelas Gayus yang mencuri uang Negara yang bermilyar rupiah bisa berlaha-leha ke Bali, keluar negeri, dan segala keinginannya terpenuhi. Apalah dikata, uang berbicara. Aparat penegak hukum pun dapat dibeli. Matanya hijau tatkala disodorkan uang oleh Gayus. 

Bona bukanlah orang yang pertama mengkritik pemerintah melalui lagu. Sebelumnya ada beberapa musisi yang juga melakukan hal yang sama seperti Bona. Mogi Darusman, Harry Roesli, Iwan Fals, Slank, Gigi dan sederatan musisi-musisi lainnya.

Mogi Darusman dibrangus, muncul Harry Roesli. Pemusik asal Bandung ini melahirkan karya-karya sarat kritik sosial dan, bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru. Bersama DKSB (Depot Kreasi Seni bandung) dan Komite Mahasiswa Unpar, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter "Tragedi Trisakti" dan panggung seni dalam acara "Gelora Reformasi" di Universitas Parahyangan.

Saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Zaman berubah. Era reformasi menjadi euforia para seniman bebas membuat lagu bertema sosial. Kritik tak lagi membuat menyakitkan, karena para petingi dan koruptor di Indonesia sudah "mati rasa". Mestinya lagu "Rayap-rayap" sangat pas untuk kondisi sekarang di mana para pejabat yang korup relevan disebut babi-babi gemuk. Sehingga pada era tahun 90 an sampai 2000 an lagu-lagu dengan tema antikorupsi dari para musisi banyak dibuat. Mereka memiliki kepekaan cukup tinggi terhadap fenomena korupsi masih pun marak.

Bisa disebut "Surat Buat Wakil Rakyat" (Iwan Fals), "Seperti Para Koruptor" (Slank), "Pemimpin Budiman (GIGI), "Gosip Jalanan" (Slank), "Kwek Kwek Kwek" (Iwan Fals), "Merdekakah Kita" (Saykoji), "Jengah" (Pas Band), dan "Rubah" (Iwan Fals), serta "Sapuku Sapumu Sapu Sapu" (Iwan Fals).

Lantas musisi generasi muda seperti "Music Guyonan" (Dedy Suardi), "KA (Koruptor Anjink)" (ANTINK band), "Krisis Ekonomi vs Korupsi" (RCP), "Distorsi" (Ahmad Band), "John Esmod" (/rif), "I.C.U" (Tipe-X), "Nagih" (Slank), "Dekadensi" (Chrisye), "Sini Oke Sana Ko" (Seurieus), "Politik Uang" (Iwan Fals), "Birokrasi Kompleks" (Slank), dan "Indonesia" (Rhoma Irama), serta "Negeri Cintaku" (Keenan Nasution)
Itulah sederaten para musisi dengan bibir manisnya mengalunkan kritik-kritik terhadap kedaan sosial. Suara hati megalir memalui syair-syair ketika diri tidak bisa berbuat dan memperbaiki.

Potret Penegakan Hukum, Rerformasi Biokrasi, dan Menuju Negara Kebal Korupsi
Bila dicermati lebih jauh, sebenarnya kasus Gayus yang menghangatkan publik hanyalah beberapa kasus yang terungkap dari Negeri ini. Tentunya, masih banyak Gayus-Gayus yang lain yang belum terungkap. Gayus hanyalah pejabat rendahan di Departemen Pajak, tanpa bermaksud buruk sangka, jika pejabatn rendahnya seperti itu, apatah lagi dengan dengan pejabat esolan.

Masih banyak PR, yang bukan hanya PR aparat penegak hukum, tapi PR kita semua. Tapi yang menjadi permasalahan, hukum di negeri ini tidak akan bisa ditegakkan selagi para aparat (polisi dan jaksa) masih tumbang tindih dan matanya masih hijau ketika disodorkan uang. 

Karena itu, reformasi biokrasi dari hal-hal yang haram mutlak dilaksanakan. Bukan hanya Departemen Pajak, tapi di titik-titik tertentu seperti pengelolaan parkir, passport, Pengadilan, Kepolisian, dan biokrasi-biokrasi pemerintah lainnya masih terbuka lebar peluang untuk hal-hal administrasi haram. 

Ketika berbicara hukum, hukum tidak akan ada dan tidak akan dapat ditegakkan minimal harus ada tiga unsur. Pertama, musti ada pembuat hukum. Kedua, penjalan dan pengawal hukum. Dan ketiga, masyarakat harus taat hukum. Jika tiga unsur ini tidak terpenuhi, maka hukum tidak akan ada dan hukum tidak akan berjalan.

Korupsi atau apapun namanya, dapat menibulkan setidaknya enam bencana yaitu: Pertama, berkurangnya kepercayaan terhadap pemerintah. Kedua, berkurannya kewibawaan pemerintah dalam masyarakat. Ketiga, menyusutnya pendapatan Negara. Keempat, rapuhnya keamanan dan ketahanan Negara. Kelima, perusakan mental pribadi. Keenam, hukum tidak lagi dihormati.

Karenanya, sudah semestinyalah di negeri ini ada Undang-Undang yang dapat membuat efek jera untuk para tikus-tikus koruptor. Belajar kepada Latvia dan China yang berani melakukan rombakan besar untuk menumpas koruptor di negara mereka. 

Sebelum tahun 1998, Latvia adalah negara yang sangat korup. Untuk memberantas korupsi yang begitu parah, akhirnya negara tersebut menerapkan undang-undang lustrasi nasional, atau undang-undang pemotongan generasi. Melalui undang-undang ini, seluruh pejabat eselon II diberhentikan dan semua tokoh pejabat dan tokoh politik yang aktif sebelum tahun 1998 juga dilarang aktif kembali. Sekarang, negara ini menjadi negara yang benar-benar bersih dari korupsi.

Sementara Cina melakukan pemutihan seluruh koruptor yang telah melakukan korupsi sebelum tahun 1998. Semua pejabat yang korupsi dianggap bersih, tapi begitu ada korupsi sehari sesudah pemutihan, maka pejabat yang korupsi langsung dijatuhi hukuman mati. Hasilnya, China juga menjadi negara bersih dari tikus-tikus busuk. Bagaimana dengan Indonesia? Katanya penduduk muslim terbesar di dunia. 

Selian itu, aparat penegak hukum musti juga dibersihkan dari orang-orang yang hanya memperjual belikan hukum untuk kekenyangan perutnya sendiri. Kemudian, rakyat juga musti taat kepada hukum.

Tatkala tiga ini berjalan beriringan, insyaallah kedepannya hukum dapat ditegakkan tanpa pandang bulu. Bak adat Melayu Jambi mengato: Aek ning ikannyo jinak. Rumput Mudo kerbaunyo gemuk. Negeri aman padinyo menjadi. Aman kampung kareno dek yang tuo. Ramai kampong kareno dek yang mudo. Kak keruh samo-samo kito jernihkan. Kak kusut samo-samo rapikan. Itulah selako adat yang menggambarkan aman dan makmurnya suatu negeri dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Jika tidak, negeri ini tetaplah menjadi negeri yang lucu layaknya yang dikatakan Bona:
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

*(Penulis adalah Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus IAIN STS Jambi)




06 January 2011

RENUNGAN HIDUP

Aku sering berfikir… untuk apa aku hidup?

Mulai dari sebuah sekolah yang menanamkan disiplin dan kehidupan bermasyarakat. Begitu banyak masa kecil yang tersita untuk belajar ….Akhirnya mendapat gelar ….Aku menambah antrian pencari kerjaLowongan… lowongan… lowongan…. YAP! Ini dia...Setelah beragam tes, masuk dalam daftar karyawanMerintis karir dan profesionalismeTenggelam dalam tumpukan kerjaMabuk, gila kerja, stresssss….Tapi karirku menanjak dan aku menuai banyak UANG!Waktu berlalu ...Ada target baru di sana...Bertemu belahan jiwaArungi bahtera menuju mawaddah wa rahmahMendapat amanah ...Ini dia, generasi penerus yang diidamkanAllaahu Akbar… kapan bisa tidur? (Jam dua belas malam niih…)Mendaki tangga hidup bermasyarakatMemanfaatkan waktu sebaik mungkin...Akulah BINTANG;dimanapun aku beradaDan aku benar-benar menjadi KAYA RAYA…..Tapi rasanya waktu terlalu singkat...… untuk memenangkan arena secara sempurnaUGH! Mereka mengatakan aku tidak berarti...Rasanya hampir gila…hancur….Tulalit…tulalit… tak seorangpun menemanikuAku sudah menjadi sampah.Waktu berjalan begitu lambat...Gelap… semua berkabutSeperti mengejar ketololanSemua menyingkirSemua menjadi musuh...Tinggal menunggu waktuKetika saat yang dijanjikan itu tibaDari semua renungan ini,aku mendapat IDE...Aku harus punya orientasi hidup, Aku hidup tidak hanya di dunia, di akherat lebih panjang lagi, 1000 tahun, sejuta tahun, semilyar tahun ah selamanya.Aku harus mendapatkan keduanya, sukses dunia dan sukses akheratMengabdikan diriku untuk Sang KholiqSekuat tenaga menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannyaMendoakan bapak dan ibukuMenyinari manusia di kegelapan hidupMemberikan manfaat kepada umatKarena aku yakin disana ada surga, kebahagiaanAku akan hidup dengan enjoyAku mencintai semua orangBanyak mendengar dengan tulusMemanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam persahabatanMungkin juga banyak bertualangTIDAK…tentu saja aku tidak boleh terlena dengan musik jahiliyahRekreasi...Masak yang paling enak...Berteman dengan penuh kehangatan...Menambah porsi kasih sayangBerkirim dan menerima suratSelalu mencari win-win solutionSebenarnya aku agak gamang, tapi aku yakin aku bisa“Katakan apa saja, aku akan tetap mencintai anda semuaAku akan membersihkan dunia dari hasad dan najis-najis batinMenjadikan semua orang saling berbagiWaktu tak akan mampu menghentikanku...Bahkan sekalipun aku telah pergi...Ya Rabbi… dengan jiwa yang penuh noda kami kembali, hanya ampunan dan rahmat-Mu yang dapat menyelamatkan kami….

OPINI

KETIKA SPORTIFITAS HARUS DI KEDEPANKAN
Wajah Dunia Bola Serumpun Melayu
 Oleh: Edi Kurniawan*

Hingar bingar pertandingan antara Garuda Indonesia vs Harimau Malaya beberapa waktu lalu menjadi isu hangat sampai hari ini. Pesta akbar di lapangan hijau tersebut telah menghiasi wajah media, baik cetak maupun elektroni sehingga menjadi perbincangan hangat pada semua level, baik pejabat Negara maupun rakyat jelata. Betapa tidak, pertarungan yang memperjuangkan prestasi Negara dalam laga di lapangan hijau tersebut untuk merebutkan piala satu Suzuki AFF se-Asean. Tentunya kedua belah pihak sama-sama lebih giat, karena mereka membawa nama Negara masing-masing.

Kedua belah pihak telah mempertunjukkan taring dan kekuatan masing-masing. Namun, hal tesebut masih meninggalkan kesan dan sisa. Leg pertama telah usai di Stadiun Nasional Bukit Jalil Malaysia. Harimau Malaya unggul dengan skor 3-0 atas Garuda Indonesia meskipun pada pertandingan sebelumnya Harimau Malaysia telah dikalahkan dengan 5-1 oleh Garuda Indonesia. Dan tinggal masanya menunggu leg berikutnya sebagai penentuan di Gelora Bung Karno Jakarta pada 29 Desember 2010  mendatang.

Di balik kemenangan Harimau Malaya pada leg pertama tersebut, amat disayangkan para supporter Halimau Malaya meninggalkan kesan ketidakdewasaan dan ketidaksportifitas yang tentunya akan berdampak pada harga dan klaim negatif Bangsa mereka sendiri. Betapa tidak, pertarungan tersebut sempat dihentikan lantaran berjubun-jubun laser supporter Malaysia tertuju pada wajah Markus, pejaga gawang Garuda Indonesia. Begitu pula petasan-petasan yang seyogyanya tidak dibolehkan untuk dibawa masuk, namun pihak keamanan masih kecolongan atau boleh jadi ada deal-deal-an antara mereka. Tujuannya adalah mengganngu konsentrasi dan memecahkan mental para Pemain Garuda Indonesia. Namun amat disayangkan, caranya tidak menunjukkan kedewasaan. Sekiranya mereka membawa bendera, terompet, dan drum sambil meneriakkan yel-yel untuk memberikan motivasi kepada pemain mereka, tentunya ini tida masalah. Lapangan hijau manapun di dunia ini, tentunya hal ini tidak bisa diterima dan merupakan sebuah kesalahan.
Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan memang merupakan dua sisi yang berbeda. Yang menang akan bersenag-senang, sementara yang kalah akan kecewa. Kemenangan Harimau Malaya tentunya bisa kita terima, jika mereka bermain secara sportif. Sadar atau tidak, ketidakkedewasaan para supporter Harimau Malaya tersebut akan bias kepada harkat dan martabat Bangsa Malaysia itu sendiri. Betapa tercorengnya wajah Malaysia dalam kancah dunia sepak bola. Betapa tidak dewasanya para supporter Harimau Malaya.
Terlepas dari adanya dendam pribadi antara kedua warga Negara tersebut, namun amat di sayangkan Malaysia tidak melihatkan wajah kedewasaan. Seyogyanya, yang konon katanya antara Indonesia dan Malaysia merupakan Negara serumpun melayu, namun Malaysia gagal memperlihatkan kemelayuannya, yang katanya orang melayu yang dikenal dengan kesantunannya dan kebaikan hatinya.

Menarik untuk dianalisis sikap supporter Garuda Indonesia pada pertandingan berikutnya di Glora Bung Karno, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, karena supporter Garuda Indonesia telah dipancing dengan cara yang tidak sportif oleh supporter Harimau Malaya, boleh jadi para supporter Garuda Indonesia akan lebih parah lagi dari apa yang telah dipraktekkan oleh para supporter Harimau Malaya. Dan tentunya ini tidak kita inginkan.

Kedua, sebaliknya, yaitu para supporter dan para pemain Garuda Indonesia bisa lebih menunjukkan kedewasaan dan sportifitas mereka ketimbang supporter Harimau Malaya. Dan inilah yang kita inginkan. Sebab, “orang yang kuat bukanlah orang yang dapat mengalahkan musuhnya dalam gulat, melainkan orang yang kuat adalah mereka yang dapat meredamkan emosinya ketika marah”, itulah petunjuk Baginda Nabi SAW yang mulia. Relevansi dari petunjuk yang mulia ini adalah sportifitas dan kedewasaan dalam pertandingan antara kedua belah pihak nantinya. Alangkah mulianya, jika dalam sebuah kemenangan diiringi dengan nilai-nilai sportifitas dan kedewasaan. Dengan demikian, akan memberikan motivasi dan semangat kepada kedua belah pihak untuk lebih giat lagi dalam berlatih. Yang menang benar-benar yang lebih unggul, dan yang kalah bukannya kekecewaan, melainkan sikap bisa menerima secara terbuka.
Oleh karena itu, untuk mencapai sportifitas pada pertandingan berikutnya, setidaknya ada tiga yang harus dilakukan sebagai berikut:

  • Pemerintah kedua belah pihak harus memberikan arahan kepada pihaknya masing-masing. Tujuannya tidak lain agar hubungan kedau belah Negara dapat berjalan lebih harmonis. Di mana seyogyanya dalam pertandingan ini dapat menggalang persabatan, bukan permusuhan.
  • Pemerintah kedua belah pihak, dalam hal ini para aparat yang terkait harus memeriksa lebih ketat lagi, terutama para supporter masing-masing. Alat-alat seperti senjata tajam, laser, kembang api, dan merecon, tentunya ini dapat mengganggu konsentrasi para pemain. Dan jangan diberikan peluang untuk bisa masuk.
  • Para supporter dan para pemain kedua belah pihak musti bisa lebih bersikap dewasa lagi. Silahkan saja mengaumkan yel-yel masing, tapi bukan mengejek dan mengolok-olok antara kedau belah pihak. Melainkan memberi semangat kepada para pemain masing-masing.
Harapan penulis, dan mudah-mudah harapa kita semua, pertandingan berikutnya, baik Malaysia maupun Indonesia, kita bisa sama-sama menampakkan identitas kemelayuan kita. Yang konon katanya, orang melayu dikenal dengan kesantunan dan kebaikannya hatinya.  Karena pada hakikatnya, pertandingan semacam sepek bola seperti ini, tujuan utama selain merebutkan kemengan yang tentunya secara sehat, tentu juga di sana dapat merajut ukhuwah. Mudah-mudahan apapun hasilnya, menang atau kalah, kita sama-sama bisa menerima. Bagi yang menang, harus kita akui bahwa mereka lebih hebat dari kita dan tentunya bagi pihak yang kalah harus berlatih lebih giat lagi. Dengan demikian, dunia sepak bola kita kedepannya bisa lebih maju lagi.

Terkahir, barangkali ada benarnya, dunia sepak bola Eropa jauh lebih maju dan hebat dari dunia sepak bola kita, karena mereka begitu menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas. Jarang ditemukan dalam sebuah pertandingan di mana di dalamnya ditemukan perkelahian. Sementara kita, seakan-akan hal tersebut menjadi santapan dan kebiasaan.

(Tulisan ini diambil di muat di Jambi Ekspress pada 28 Desember  2010: Dalam : http://www.jambiekspres.co.id/index.php/opini/17498-ketika-sportivitas-harus-dikedepankan.html)

PUISI

CITA-CITA
Oleh:
Edi Kurniawan
 
Aku termenung dalam mimpi
Mendaki gunung tak berkesudahan
Untuk apa aku mencaci
Jiwa dan ragaku terikuti

Menerawang dunia masa depan
Lautan ilmu tak berkesudahan
Azzampun telah terhujam
Tinggal menunggu kehendak Tuhan

Iktiar dan do'a telah berjalan
Masa menunggu keajaiban


Jambi, 03 Januari 2010

Sulit Hidup Tanpa Angka

PEKAN ini orang meramaikan tahun baru Masehi. Padahal sesungguhnya setiap agama dan bangsa besar memiliki kalender masing-masing. Jadi, setiap tahunnya cukup banyak masyarakat dunia merayakan tahun baru.
Untuk apa kalender diciptakan? Seberapa besar pengaruh kalender terhadap kehidupan manusia? Ibarat orang naik taksi, hitungan bulan dan tahun mirip jumlah angka yang muncul dalam argometer, menjelaskan sudah berapa jauh perjalanan kita. Disadari atau tidak, aktivitas kita sangat terikat dan dibatasi angka-angka. Setiap hari kita menggunakan ukuran angka dalam melakukan aktivitas. Dalam ibadah salat pun kita mesti mengingat jumlah rakaat. Dalam berzakat ada istilah nisab, batas minimal kekayaan yang mesti dizakati. Dalam membayar pajak juga ada rumusan besaran angka. Ketika terjadi pertandingan sepak bola antara timnas Indonesia dan Malaysia, keputusan akhir juga dirumuskan dalam skor angka.

Demikianlah, ketika hendak membeli pakaian, entah sepatu, baju atau celana, kita juga bertemu indikator angka yang menjelaskan ukuran tubuh. Bahkan setiap hari kita selalu terikat dengan jam dan kalender ketika hendak memutuskan sebuah kegiatan. Jam tangan dan kalender yang semula diciptakan untuk penanda waktu, bagi beberapa orang, malah dirasakan mengikat sampai biasa kita dengar ungkapan: wah, kita dikejar-kejar waktu. Betapa vitalnya mengenal angka dalam kehidupan, orang tua mulai mengenalkan hitungan kepada anak-anaknya sejak kecil. Pada dasarnya angka itu ada di dalam pikiran. Namun aplikasinya sangat diperlukan dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Ketika mau berbelanja pasti berurusan dengan jumlah uang dan barang yang dibeli.

Di situ kita terlibat aplikasi angka. Mau mempersiapkan makan menjamu tamu-tamu, selalu muncul pertanyaan, berapa orang yang hendak dijamu? Ketika memulai membuka rapat, muncul lagi pertanyaan, sampai jam berapa rapat ini berlangsung? Demikianlah seterusnya, tanpa disadari setiap saat kita berpikir dengan angka dan kemudian mengaplikasikannya dalam kegiatan nyata. Bahkan kita semua juga selalu berpikir dan mencatat tebal-tebal, kapan hari ulang tahun kita. Yang berarti kita juga berpikir tentang jatah umur yang telah dipakai. Pekan ini suasana batin kita diisi dengan agenda peringatan tahun baru Masehi 2011. Sesungguhnya setiap bangsa dan agama besar juga memiliki hitungan tahun dengan sejarah dan makna yang berbeda-beda. Lagi-lagi kita berjumpa dengan hitung-hitungan yang melibatkan angka.

Mengapa tahun Masehi lebih populer ketimbang yang lain? Pertama, kalender Masehi disebarkan oleh bangsa Eropa yang kebetulan dari segi sains, politik, dan ekonomi sangat ekspansif. Bahkan di antaranya pernah disebut sebagai penjajah. Penyebaran ini sudah tentu membawa dampak besar bagi popularitas kalender Masehi. Kemajuan teknologi informasi, terutama internet, yang didominasi bahasa Inggris dan penggunaan huruf Latin juga ikut andil memperkokoh dominasi kalender Masehi di seluruh dunia. Bangsa China memang punya kalender sendiri. Namun,meski jumlah penduduknya di atas 1 miliar, peringatan tahun baru China hanya dirayakan oleh warga keturunan China.

Begitu pun tahun baru Hijriah yang hanya digunakan oleh kalangan umat Islam. Ini berbeda dari penggunaan kalender Masehi yang penggunaannya lintas agama, etnis, dan benua. Oleh karena itu, setiap datang tahun baru Masehi, hampir seluruh dunia ikut merayakan tanpa mesti dikaitkan dengan tradisi kekristenan. Bahkan umat Islam di Indonesia ramai-ramai merayakan dengan berbagai cara. Paling tidak mereka berlibur atau kumpul-kumpul dengan keluarga. Bagi anak belasan tahun tentu sangat berbeda dalam memaknai pergantian tahun dibandingkan mereka yang umurnya sudah di atas enam puluh.

Bagi orang tua, setiap pergantian tahun selalu menyadarkan bahwa ibarat hari sebentar lagi matahari kehidupan tenggelam di ufuk barat. Betapa cepatnya umur berlari, tetapi selalu saja kita terlambat untuk tumbuh dewasa dan bijaksana. Waktu yang kemudian dibagibagi ke dalam jam, hari, minggu, bulan, dan tahun adalah modal, anugerah, dan amanah Tuhan agar dengannya kita mengisi kehidupan secara produktif dan bermakna. Tapi kita selalu saja lupa, modal terbuang, hasil nihil, bahkan kadang bangkrut. Tak ada yang dihasilkan dengan umur kita kecuali menumpuk kesalahan, dosa, dan kerusakan di muka bumi. Waktu begitu cepat berlalu.

Kalender rasanya baru kemarin dipasang, sekarang sudah ganti yang baru. Kesadaran terhadap waktu itu sangat penting bagi siapa pun yang selalu ingin memperoleh kemajuan dan keberuntungan hidup.

(diambil dari catatan Komaruddin Hidayat dalam http://www.uinjkt.ac.id/index.php/category-table/1770-sulit-hidup-tanpa-angka.html)

Gallery Al-Uswah

Gallery Al-Uswah

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP